Pembaca yang pernah melintas pulau Sumbawa yang terletak di
provinsi nusa tenggara barat melalui pesawat dapat menyaksikan betapa lebarnya
kaldera dari gunung Tambora. Kalderanya begitu indah dilihat dari ats melalui
jendela yang ada di pesawat. Pemandangan yang menakjubkan dari alam Indonesia,
sekaligus membawa efek kengerian bagaimana dahulu terciptanya. Bagaimana dahsyatnya
letusan gunung Tambora sehingga menciptakan kaldera yang sangat luas, prosesnya
tentu akibat letusan yang beberapa kali. Pada artikel ini kan dibahas salah
satu saja letusan dari gunung Tambora.
Dalam sejarah dicatatakan bahwa pada tahun 1815, pada saat
masa kolonial belanda gunung Tambora mengalami erupsi yang dahsyat. Debu yang
dikeluarkan akibat erupsi tersebut tersebar ke penjuru dunia hingga jauh. Bahkan
akibat abunya yang menutupi permukaan buni sempat mengakibatkan turunnya temperatur
global. Pada tahun berikutnya yakni 1816 berakibat tidak munculnya musim panas
yang dikenal sebagai tahun tanpa musim panas. Sebagai dampaknya banyak lahan
yang menjadi gagal panen di penjuru dunia.
Pada bulan april 1815, gunung Tambora meletus dan
mengeluarkan magma dan batuannya, hal ini juga disusul dengan hujan batu yang
sebesar 20 sentimeter yang disertai dengan asap. Asap gunung berapi menyebar
secara intensif hingga ke Jawa barat bahkan hingga ke Sulawesi Selatan. Dikabarkan
juga bahwa akibat letusan tersebut di Jakarta tercium adanya bau Nitrogen
sebagai efek dari gas yang dihembuskan.
Akibat letusan tersebut juga mendawa dampak matinya vegetasi
yang ada di kepulauan sumbawa juga akibat tertutup oleh debu yang dihembuskan. Akibat
lain yang ditimbulkan adalah kemunculan dari tsunami yang terhempas ke berbagai
kepulauan di nusantara. Ketinggian dari tsunami tersebut bisa mencapai 4 meter
tingginya. Masih lebih kecil diabndingkan gelombang tsunami Banten yang menurut
berita setinggi 8 meter atau di aceh pada tahun 2004 silam yang mencapai 30
meter.
Letusannya mengarah ke atas dan terbang sejauh lebih dari 43
kilo meter ke atas hingga mencapai lapisan stratosfer dan debunya bertahan
hingga berminggu-minggu. Letusan ini mengakibatkan langit menjadi berwarna
kuning oranye. Sulfur yang dilepaskan menyebabkan anomali cuaca. Gagal panen
dan berujung pada kasus kelaparan. Yang paling parah adalah mengena masyarakat
Lombok dan Bali yang lokasinya berdekatan dengan Sumbawa. Efek yang sampai
kedaratan Eropa juga berdampak sangat parah. Adanya gas hidrogen klorida
menjadikan hujan asam di Eropa dan mengganggu stok makanan, semakin parah
karena bertepatan dengan terjadinya wabah kolera dan juga berkecamuknya perang
Napoleon. Perang ini dikenal dengan nama perang Waterloo. Perang ini ditengarai
berlangsung lama dan sebelum terjadinya perubahan pihak yang diuntungkan gunung
Tambora mengalami erupsi.
Pada masa-masa perang perubahan iklim global yang
diakibatkan tambora berefek pada turunnya hujan yang sangat derasnya, yang amat
deraslah. Hal ini membuat taktik yang direncanakan tidak dapat digunakan,
karena sejarawan menyatakan bahwa Napoleon bisa saja menang jika perang
berlangsung pada saat keadaan kering.

