Kamis, 10 Januari 2019

Mengenal Akun Robot dan Artifisial Intelligence Bagian Kedua

Oke kita lanjutkan pembahasannya mengenai akun robot danintelegensia buatan. Sebagaimana kita tahu bahwa AI dibentuk dari rumus algoritma yang rumit dan senantiasa berubah. Kita juga mengambil peran dalam membuat AI yang dikembangkan oleh perusahaan perangkat lunak untuk menunjang kerja nya, loh kita kan tidak berbuat apa-apa untuk mereka? Eits jangan salah. Semua kegiatan yang kita lakukan di dunia maya baik ketika asyik bergelut dengan sosial media atau berseluncur mencari berbagai informasi di google dengan google chrome nya mereka menyimpan informasi yang kita lakukan bahkan informasi seperti like, share posting informasi pribadi dan lain sebagainya yang kita anggap remeh temeh ternyata dianggap sebagai sebuah masukan bagi AI untuk mengembangkan langkah apa yang mesti diambil bagi si user atau pengguna.

Sebagai contoh untuk mempermudah, jika kita me-like dan komen postingan dari teman kita di instagram misalnya. Maka postingan teman kita tersebut besar kemungkinannya akan muncul pada masa selanjutnya. Atau juga ketika kita follow, like dan komen pada suatu fanpage maka akan besar besar pula kemungkinan munculnya posting fanpage tadi untuk muncul di beranda facebook kita. Lebih lanjut apa yang kita follow, like dan komen tentu mengandung tulisan atau istilah kerennya adalah caption, dari faktor-faktor tersebut dapat pula memberikan masukan kepada sistem AI untuk kemudian menampilkan sesuai dengan apa yang kita lakukan.

Dalam dunia selancar online apa yang kita ketikkan dalam google akan direspon dengan menampilkan tayangan dari web sejenis pada tayangan selanjutnya. Misalnya jika pembaca sering membaca tulisan mengenai kesehatan maka besar kemingkinan munculnya web kesehatan pada kata kunci tertentu yang memiliki kesamaan kata kunci untuk web mengenai teknologi berdasarkan informasi yang kita ketikkan sebelumnya pada web browser.

Sesuatu yang kita anggap remeh bukan? Ternyata efeknya ada juga lho bagi perkembangan AI. Hal ini layaknya donasi 100 rupiah yang kita berikan di gerai supermarket, jika ada 100 orang pendonor sehari pada 100.000 gerai itu kan sama juga  1 miliar rupiah sehari! Untungnya disalurkan ke pihak yang membutuhkan. Lanjut lagi ke topik, tentunya data yang dikumpulkan dalam jumlah besar menyangkut ribuan data yang dimasukkan oleh ribuan orang dan menjadi variabel untuk penayangan bagi masyarakat lain. Misalnya jika pada saat tertentu banyak masyarakat yang menelusuri mengenai sosok figur tertentu sedang melakukan hal tertentu dilakukan oleh orang banyak, maka akan direspon oleh AI untuk memberikan saran kepada pengguna lain pada regional tersebut untuk melihat hal yang sama dengan yang dilakukan mayoritas. Sehingga dikenallah istilah “trending” baik di search engine maupun platform sosial media.


Nah, faktor ini bekerja layaknya gravitasi. Semakin bombastis suatu kejadian maka akan menarik banyak pengguna untuk kesana. Hal ini lah yang kemudian memunculkan adanya akun-akun robot. Akun-akun sosial media robot ini akan membuat sebuah informasi yang bukan apa-apa menjadi sesuatu yang dilihat banyak orang karena akun-akun ini memberikan informasi dalam jumlah besar kepada AI yang ada di platform sosial media terutamanya karena sosial media digunakan oleh end-user. Dengan demikian mereka menciptakan “gravitasi” buatan untuk menaikkan pamor dari salah satu jagoan pada pemilu, atau sebaliknya menciptakan efek buruk bagi pesaing dengan menciptakan grafitasi berupa hoax yang tentu tidak kita sukai. Perlu juga diketahui bahwa saai ini terjadi perang AI antara AI yang dikembangkan oleh penyedia platform social media seperti facebook, twitter, tumblr dan lain sebagainya melawan AI yang bekerja sebagai automation tool yang menggerakkan akun-akun robot. Simak juga Mekanisme Kerja Akun Robot.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar