Oke kita lanjutkan pembahasannya mengenai akun robot danintelegensia buatan. Sebagaimana kita tahu bahwa AI dibentuk dari rumus
algoritma yang rumit dan senantiasa berubah. Kita juga mengambil peran dalam
membuat AI yang dikembangkan oleh perusahaan perangkat lunak untuk menunjang
kerja nya, loh kita kan tidak berbuat apa-apa untuk mereka? Eits jangan salah. Semua
kegiatan yang kita lakukan di dunia maya baik ketika asyik bergelut dengan
sosial media atau berseluncur mencari berbagai informasi di google dengan
google chrome nya mereka menyimpan informasi yang kita lakukan bahkan informasi
seperti like, share posting informasi pribadi dan lain sebagainya yang kita
anggap remeh temeh ternyata dianggap sebagai sebuah masukan bagi AI untuk mengembangkan
langkah apa yang mesti diambil bagi si user atau pengguna.
Sebagai contoh untuk mempermudah, jika kita me-like dan
komen postingan dari teman kita di instagram misalnya. Maka postingan teman
kita tersebut besar kemungkinannya akan muncul pada masa selanjutnya. Atau juga
ketika kita follow, like dan komen pada suatu fanpage maka akan besar besar
pula kemungkinan munculnya posting fanpage tadi untuk muncul di beranda
facebook kita. Lebih lanjut apa yang kita follow, like dan komen tentu
mengandung tulisan atau istilah kerennya adalah caption, dari faktor-faktor
tersebut dapat pula memberikan masukan kepada sistem AI untuk kemudian
menampilkan sesuai dengan apa yang kita lakukan.
Dalam dunia selancar online apa yang kita ketikkan dalam
google akan direspon dengan menampilkan tayangan dari web sejenis pada tayangan
selanjutnya. Misalnya jika pembaca sering membaca tulisan mengenai kesehatan
maka besar kemingkinan munculnya web kesehatan pada kata kunci tertentu yang
memiliki kesamaan kata kunci untuk web mengenai teknologi berdasarkan informasi
yang kita ketikkan sebelumnya pada web browser.
Sesuatu yang kita anggap remeh bukan? Ternyata efeknya ada
juga lho bagi perkembangan AI. Hal ini layaknya donasi 100 rupiah yang kita
berikan di gerai supermarket, jika ada 100 orang pendonor sehari pada 100.000
gerai itu kan sama juga 1 miliar rupiah
sehari! Untungnya disalurkan ke pihak yang membutuhkan. Lanjut lagi ke topik, tentunya
data yang dikumpulkan dalam jumlah besar menyangkut ribuan data yang dimasukkan
oleh ribuan orang dan menjadi variabel untuk penayangan bagi masyarakat lain. Misalnya
jika pada saat tertentu banyak masyarakat yang menelusuri mengenai sosok figur
tertentu sedang melakukan hal tertentu dilakukan oleh orang banyak, maka akan
direspon oleh AI untuk memberikan saran kepada pengguna lain pada regional
tersebut untuk melihat hal yang sama dengan yang dilakukan mayoritas. Sehingga dikenallah
istilah “trending” baik di search engine maupun platform sosial media.
Nah, faktor ini bekerja layaknya gravitasi. Semakin bombastis
suatu kejadian maka akan menarik banyak pengguna untuk kesana. Hal ini lah yang
kemudian memunculkan adanya akun-akun robot. Akun-akun sosial media robot ini
akan membuat sebuah informasi yang bukan apa-apa menjadi sesuatu yang dilihat
banyak orang karena akun-akun ini memberikan informasi dalam jumlah besar
kepada AI yang ada di platform sosial media terutamanya karena sosial media
digunakan oleh end-user. Dengan demikian mereka menciptakan “gravitasi” buatan
untuk menaikkan pamor dari salah satu jagoan pada pemilu, atau sebaliknya menciptakan
efek buruk bagi pesaing dengan menciptakan grafitasi berupa hoax yang tentu
tidak kita sukai. Perlu juga diketahui bahwa saai ini terjadi perang AI antara
AI yang dikembangkan oleh penyedia platform social media seperti facebook,
twitter, tumblr dan lain sebagainya melawan AI yang bekerja sebagai automation
tool yang menggerakkan akun-akun robot. Simak juga Mekanisme Kerja Akun Robot.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar