Minggu, 13 Januari 2019

Letusan Gunung Tambora yang Maha Dahsyat Hingga Perang Napoleon

Pembaca yang pernah melintas pulau Sumbawa yang terletak di provinsi nusa tenggara barat melalui pesawat dapat menyaksikan betapa lebarnya kaldera dari gunung Tambora. Kalderanya begitu indah dilihat dari ats melalui jendela yang ada di pesawat. Pemandangan yang menakjubkan dari alam Indonesia, sekaligus membawa efek kengerian bagaimana dahulu terciptanya. Bagaimana dahsyatnya letusan gunung Tambora sehingga menciptakan kaldera yang sangat luas, prosesnya tentu akibat letusan yang beberapa kali. Pada artikel ini kan dibahas salah satu saja letusan dari gunung Tambora.

Dalam sejarah dicatatakan bahwa pada tahun 1815, pada saat masa kolonial belanda gunung Tambora mengalami erupsi yang dahsyat. Debu yang dikeluarkan akibat erupsi tersebut tersebar ke penjuru dunia hingga jauh. Bahkan akibat abunya yang menutupi permukaan buni sempat mengakibatkan turunnya temperatur global. Pada tahun berikutnya yakni 1816 berakibat tidak munculnya musim panas yang dikenal sebagai tahun tanpa musim panas. Sebagai dampaknya banyak lahan yang menjadi gagal panen di penjuru dunia.

Pada bulan april 1815, gunung Tambora meletus dan mengeluarkan magma dan batuannya, hal ini juga disusul dengan hujan batu yang sebesar 20 sentimeter yang disertai dengan asap. Asap gunung berapi menyebar secara intensif hingga ke Jawa barat bahkan hingga ke Sulawesi Selatan. Dikabarkan juga bahwa akibat letusan tersebut di Jakarta tercium adanya bau Nitrogen sebagai efek dari gas yang dihembuskan.

Akibat letusan tersebut juga mendawa dampak matinya vegetasi yang ada di kepulauan sumbawa juga akibat tertutup oleh debu yang dihembuskan. Akibat lain yang ditimbulkan adalah kemunculan dari tsunami yang terhempas ke berbagai kepulauan di nusantara. Ketinggian dari tsunami tersebut bisa mencapai 4 meter tingginya. Masih lebih kecil diabndingkan gelombang tsunami Banten yang menurut berita setinggi 8 meter atau di aceh pada tahun 2004 silam yang mencapai 30 meter.

Letusannya mengarah ke atas dan terbang sejauh lebih dari 43 kilo meter ke atas hingga mencapai lapisan stratosfer dan debunya bertahan hingga berminggu-minggu. Letusan ini mengakibatkan langit menjadi berwarna kuning oranye. Sulfur yang dilepaskan menyebabkan anomali cuaca. Gagal panen dan berujung pada kasus kelaparan. Yang paling parah adalah mengena masyarakat Lombok dan Bali yang lokasinya berdekatan dengan Sumbawa. Efek yang sampai kedaratan Eropa juga berdampak sangat parah. Adanya gas hidrogen klorida menjadikan hujan asam di Eropa dan mengganggu stok makanan, semakin parah karena bertepatan dengan terjadinya wabah kolera dan juga berkecamuknya perang Napoleon. Perang ini dikenal dengan nama perang Waterloo. Perang ini ditengarai berlangsung lama dan sebelum terjadinya perubahan pihak yang diuntungkan gunung Tambora mengalami erupsi.


Pada masa-masa perang perubahan iklim global yang diakibatkan tambora berefek pada turunnya hujan yang sangat derasnya, yang amat deraslah. Hal ini membuat taktik yang direncanakan tidak dapat digunakan, karena sejarawan menyatakan bahwa Napoleon bisa saja menang jika perang berlangsung pada saat keadaan kering. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar