Setelah pembaca mengetahui mengenai akun robot dan AI. Kali ini
kita akan membahas mengenai mekanisme kerja akun robot. Sebagaimana kita
ketahui saat ini adalah jaman edan-edannya sosial media, banyak perusahaan
berlomba-lomba menjadikan platformnya menjadi sosial media terbaik di dunia
yang banyak dipakai dan memberikan layanan terbaik bagi penggunanya. Pengguna sosial
media adalah end-user yakni layaknya masyarakat biasa yang bebas kepentingan
tertentu. Jika diibaratkan adalah kumpulan masyarakat yang ada di pinggir jalan
atau di warung kopi yang ngobrol, bersenda gurau dan tanpa kepentingan apapun.
Kali ini penulis akan menitik beratkan penggunaan akun robot
pada masa pilpres atau pemilu pada umumnya. Seperti halnya kita tahu atau
setidaknya penulis dan yang seumuran tahu :D bahwa pada jaman dulu kampanye
akan ramai di daerah yang padat dan strategis. Disitulah akan dipasang berbagai
baliho dan dilaksanakannya kampanye. Di daerah yang lebih sepi cenderung lebih
jarang dilakukan meskipun ada juga sih yang kampanye. Informasi yang diberikan
dan baliho yang terpampang memberikan efek grafitasi sendiri bagi masyarakat
tempatan untuk membicarakannya dan memilih jagoannya berdasarkan informasi yang
mereka dapat dan juga faktor “mayoritas” masih akan selalu berperan.
Sekarang dengan berkembangnya platform sosial media. Masyarakat
dapat saling terhubung layaknya saat terhubung di warung kopi dengan saat kita
terhubung di dunia maya. Kita melihat informasi yang ada di sosial media dan
saling ngobrol membahas suatu topik atau sekedar menyapa dan bersilaturahmi
secara online. Lebih lanjut sosial media gratis tersebut dapat menyimpan data
kita dalam masa yang panjang, tentunya mereka juga mendapat benefit dari iklan
yang mereka tayangkan. Yaa... sma-sama dapatlah.
Seirinjg banyaknya pengguna sosial media trutama di
Indonsia. Tntunya tidak bisa di sia-siakan bgitu saja oleh jagoan yang akan
berlaga saat pemilu. Ya, namanya jagoan punya program dan misi dan impian baik
membangun negeri kalau tidak ada yang tahu akan hal itu siapa juga yang akan
memilih, ya nggak? Maka dari itulah kampanye juga dilakukan dengan sosial
media. Namun demikian sosial media bukanlah hal yang mudah. Banyaknya pengguna
berarti postingan kita akan cepat tenggelam dan digantikan oleh informasi yang
baru. Bagaimana agar informasi yang akan disampaikan terlihat oleh orang banyak?
Caranya adalah dengan menjadikannya trending dengan menjadikannya dilihat oleh
orang banyak dan di share oleh orang banyak termasuk like dan komen akan
otomatis menjadikannya trending. Yang berarti informasi yang akan disampaikan
akan sampai ke calon pemilih secara lebih luas.
Mengingat besarnya pengguna dengan informasi yang masuk di
sosial media. Untuk menjbol hal tersebut, kini banyak orang membuat akun palsu
alias robot untuk membuat informasi yang dilakukan jagoan semakin banyak dibaca
orang. Lalu bagaimana akun-akun tersebut dikelola? Akun-akun tersebut dikelola
dengan automation tool untuk sosial media. Ya, yang mengelola orang juga. Namun
demikian akun-akun tersebut dapat melakukan fungsi-fungsi seperti yang
dilakukan oleh pngguna sosial media biasa scara otomatis. Seperti contohnya
memberikan like, komen dan share secara otomatis. Si pengelola akun robot
memasukkan berbagai variabel yang sesuai untuk mendukung informasi yang akan
disampaikan, lalu AI akan menarget akun pngguna yang mmiliki ksamaan variabel,
yakni kata dalam postingan kita atau pun variabel lain seprti siapa yang kita
ikuti dan apa yang kita sukai.
Tak kalah pntingnya adalah hastag, melalui akun-akun robot
hastag dapat dibuat oleh sekian orang nampaknya, padahal akun-akun robot yang
membuatnya. Semakin banyak yang menggunakan hastag semakin trending bukan? Semakin
trending menciptakan efek grafitasi dan menjadikan semakin banyak orang yang
tertarik terhadap seorang sosok atau program kerja.
Namun demikian, tak selamanya hal tersebut dimaksudkan untuk
menyampaikan maksud dan tujuan baik dari sang peserta pemilu. Sering kali hal
yang akan diramaikan adalah hal negatif dari pesaing. Baik hal yang memang
merupakan kekurangan, ya siapa yang tak punya kekurangan. Dan jika tidak ada
kekurangan yang bombastis maka diciptakanlah informasi palsu atau hoax yang
kemudian disebarkan dan dengan mesin akun robot penyebarannya menjadi semakin
masif. Banyak juga masyarakat banyak yang termakan isu hoax dan ikut
menyebarkan informasi palsu tersebut. Akan tetapi akun robot masih memiliki
berbagai keunggulan karena sifatnya yang tidak mengenal lelah dan selalu dapat
bekerja non stop membombardir dunia sosial media.
Lalu apa yang bisa kita lakukan? Yang dapat kita lakukan
adalah dengan mereport atau melaporkan kepada platform sosial media terkait
jika informasi yang kita terima tahu pasti kepalsuannya. Atau mungkin kita
melihat akun dengan foto-foto selebritis yang kita kenal tapi dengan nama lain.
Jelas itu indikasi akun robot yang menyembunyikan sesuatu untuk tujuan
tertentu. Sekian dari saya. Semoga pemilu kali ini damai dan menghasilkan
pemimpin yang terbaik bagi rakyat Indonesia dan dapat mengemban amanah dari
pendiri bangsa bapak Ir. H. Soekarno.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar